imajinasi berkreasi Seringkali kita dengan mudahnya berimajinasi atau berkhayal tentang sesuatu yang kita inginkan. Imajinasi bisa beragam sesuai dengan harapan dan keinginan kita. Seperti waktu jaman saya kuliah, saya berandai-andai, betapa asyiknya jadi seorang web programmer. Saat itu saya sama sekali tidak tahu bahasa pemrograman web. Saya hanya bisa mengagumi teman kuliah saya yang sudah punya web pribadi walaupun tampilannya sangat sederhana, HTML doank. Tapi itu tetap membuat saya kagum.  Lalu, secara alami, ‘andai-andai’ saya itu mengendap di alam bawah sadar saya dan secara alami pula sikap dan tindakan saya mengarah ke perwujudan nyata berupa pergerakan  proses belajar menuju seorang web programmer. Hasilnya, saya menjadi web programmer.

Nah, lalu apa hubungannya dengan judul postingan ini ? Mendobrak Kebuntuan Mewujudkan Imajinasi. Pastinya kita pernah mengalami saat saat kita ingin berkreasi, tapi ternyata untuk mewujudkannya sulit sekali. Kita ingin bisa menulis, tapi tangan terasa kaku tanpa bisa memulai. Kita ingin bisa berkarya, tapi untuk mulai saja terasa bingung, harus mulai dari mana. Saya pun sering mengalami hal seperti itu. Pertanyaannya sekarang, apa sih yang bikin kita begitu sulit untuk mulai ? apa sih yang bikin kita gagal mengerjakan apa yang sudah kita rencanakan ? Ternyata biang keroknya banyak sekali dan semua itu mengendap di alam bawah sadar kita. Segala macam pengalaman, persepsi dan asumsi tentang segala informasi yang bersifat negatif, terkumpul di alam bawah sadar kita. Hebatnya lagi, saat kita ingin mulai mewujudkan imajinasi atau angan-angan tadi, semua yang terekam di alam bawah sadar kitapun secara otomatis merespons dengan memberikan ‘bisikan’  bahwa kita tidak mampu, kita salah, banyak hambatan dan segala informasi yang negatif. Lalu, secara otomatis pula pikiran kita mengamini plus membumbui dengan logika-logika yang semakin menguatkan. Hasilnya sudah jelas, kita gagal total mewujudkan imajinasi dalam bentuk kreasi nyata.

Trus gimana donk solusinya ? Ya, karena tadi sudah jelas, bahwa alam bawah sadar kitalah sumber utamanya, berarti yang harus dioprek tentu saja bagian itunya (alam bawah sadar - red). Suka tidak suka, semua  pengalaman, persepsi dan asumsi dari kita dan sumber di luar kita terserap masuk ke diri kita, mengendap di alam bawah sadar kita. Kenapa bisa begitu ? karena kita memang mengijinkan segala macam informasi tsb untuk masuk. Jadi jelas, harusnya memang kita bisa memilih dan memfilter segala macam informasi tsb, apakah layak diterima atau tidak. Kriteria layak dan tidaknya ? buat saya pribadi sih, yang bersifat ‘positif’, membangun, optimis, berhasil, yakin, percaya, senang , gembira, sejuk, indah, damai, seru, menarik, menantang, terang, penuh warna, tawa, canda , ceria, cinta (ehem) dan banyak lagi lainnya yang kiranya ini merupakan sifat-sifat yang umumnya cenderung ‘baik’.

Kita tidak akan punya konsep ‘gagal’, kalau kita tidak memiliki informasi tentang apa itu yang namanya ‘gagal’. Kita juga tidak akan pernah punya konsep ‘kalah’, kalau kita juga tidak pernah menerima pemahaman tentang apa yang dinamakan ‘kalah’

Sebagai contoh, saya lebih memilih berita tentang petualangan di alam bebas ketimbang tawuran penonton konser musik. Saya lebih memilih menonton memoar para pejuang 45, daripada bicara tentang lunturnya nasionalisme. Dan saya cenderung memilih blogwalking daripada nonton sinetron ( hehehe .. :P ) Dengan terbiasanya kita memilih dan memfilter informasi yang masuk, maka secara alami pula alam bawah sadar kita semakin penuh berisi informasi yang ‘baik’. Tentunya anda sudah bisa menebak, bila alam bawah sadar kita terjaga dari informasi yang ‘negatif’ dan berisi penuh informasi yang ‘baik’, maka pilar utama kita untuk memulai lagi usaha-usaha mewujudkan imajinasi dalam bentuk kreasi nyata, akan jauh lebih mudah dan menyenangkan. Setiap nafas pergerakan kita akan selalu di backup oleh alam bawah sadar secara positif.

Kita tidak akan punya konsep ‘gagal’, kalau kita tidak memiliki informasi tentang apa itu yang namanya ‘gagal’. Kita juga tidak akan pernah punya konsep ‘kalah’, kalau kita juga tidak pernah menerima pemahaman tentang apa yang dinamakan ‘kalah’. Ini juga bukan berarti kita akan langsung berhasil, pasti adakalanya kita belum berhasil, tetapi karena tadi kita tidak memiliki konsep gagal ( tidak memiliki informasi tentang apa itu yang namanya ‘gagal’ ) , kita tidak akan pernah berhenti untuk mengulang terus sampai kita berhasil.

Terakhir dari saya, mulailah kita memilih dan memfilter segala macam informasi yang masuk untuk menjaga dan memelihara alam bawah sadar kita, yang merupakan pilar utama dalam Mendobrak Kebuntuan Mewujudkan Imajinasi dan mendukung proses berkreasi mewujudkan imajinasi kita. Nah bagaimana dengan Anda ? yang setuju tunjuk tangan, yang gak setuju juga monggo, demokratis nih :)

Popularity: 36% [?]

Jika Anda tertarik dengan Artikel ini atau mungkin ingin selalu update postingan dari Blog Kodokijo ini, Anda dapat berlangganan menggunakan :
bullet_text.gif Berlangganan RSS FEED Kodokijo
bullet_text.gif Berlangganan RSS FEED Kodokijo via email